try another color:
try another fontsize: 60% 70% 80% 90%

Pak Kodiat (Moro Lejar) : Berawal dari Ban Kempes dan Gemar Mancing

0leh: Olly D Purnamasari.

Bapak Kodiat dan Ibu Sumarsih adalah pemilik dari Restoran Moro Lejar. Restoran Moro Lejar yang terletak di kaki Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta, merupakan pelopor restoran ikan bernuansa alam desa. Berawal dari situasi ekomoni keluarga yang morat-marit, Bapak Kodiat yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta dan Ibu Sumarsih yang hanya sebagai ibu rumah tangga, ketika itu mereka sudah mempunyai empat orang anak. Kebutuhan akan hidup yang terus meningkat membuat Ibu Sumarsih tidak bisa tinggal diam. Ia berinisiatif untuk membuka usaha.

 

Pak Kodiat - Pemilik Resto Moro LejarTerima kasih untuk Ban Kempes

Di tahun 1987, dengan sedikit tabungan dari usahanya sebagai loper koran dan berhutang di bank, ia memberanikan diri membeli penggilingan padi di daerah asalnya yaitu Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Ternyata usaha yang mulai dirintis tersebut hanya bertahan selama 2 tahun. Ia menjual semua asset untuk menutup hutang-hutangnya. Setelah usaha penggilingan padi tersebut hancur, Ibu Sumarsih tidak patah arang, sembari merawat anak-anaknya yang masih kecil, ia membuka warung makan seadanya (menjual nasi sayur) di depan rumahnya di samping lokasi bekas usaha penggilingan padi. Usaha warung makan yang baru dirintisnya ternyata tidak laku lantaran banyak orang yang tidak tahu. Rumah ataupun usaha warung makan tersebut berlokasi di daerah Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, yang terletak di kaki Gunung Merapi. Persis di depan rumah tersebut terdapat jalan yang sering digunakan truk-truk penambang pasir mondar-mandir dari kaki Gunung Merapi ke Kota begitu juga sebaliknya. Hingga pada suatu ketika ada sebuah truk yang bannya kempes berhenti di depan rumah mereka. Sembari mengganti ban, sopir truk tersebut mampir ke warung Ibu Sumarsih, ia cukup kaget "lho kok ada yang jual makan?" begitu ujar Pak Kodiat menceritakan awal mula Restoran Moro Lejar terbentuk. Tidak disangka keesokan harinya ia mampir kembali dan mengajak temannya meminta dibuatkan sarapan pagi.

 

Pada saat itu Pak Kodiat gemar mencari ikan di sungai untuk menambah menu di meja makan mereka. Ketika mencari ikan, terkadang jumlahnya berlebih, ia pun menjualnya di warung miliknya. "Awalnya untuk konsumsi keluarga, kelebihannya baru dijual" ujar Pak Kodiat mengenang. Ternyata banyak sopir truk dan bus yang suka ikan masakan Ibu Sumarsih. Ketika itu keluarga Pak Kodiat sudah mempunyai kolam kecil di belakang rumahnya yang berhubungan dengan dua sungai di depan dan di belakang rumah mereka. Semakin lama warung tersebut semakin ramai. Warung kecil tersebut sudah tidak muat lagi untuk menampung pengunjung. Ia pun memperluas warungnya dengan membangun gubug di atas kolam ikan tersebut. Ternyata banyak orang yang suka, banyak orang yang lebih memilih makan di atas gubug daripada di warungnya. Karena jumlah pengunjung yang semakin lama semakin ramai, Pak Kodiat membuat kolam kembali dan membangun gubug di atas kolam tersebut.

 

Kini 35 Gubug

Kini mereka mempunyai 35 gubug besar dan gubug kecil. Awal membangun gubug-gubug tersebut ketika ada seorang tamunya yang kebetulan pegawai bank BRI, melihat banyak lubang di lantai warungnya. Ia mengusulkan agar Pak Kodiat memperbaiki agar tampak indah, ia pun mengusulkan agar Pak kodiat menghitung berapa biaya yang diperlukan dan kemudian mengajukan pinjaman ke bank. Setelah di hitung-hitung ia pun mengajukan Rp 200.000 untuk perbaikan warungnya. Setelah beberapa saat hutang tersebut dilunasinya. Kemudian ia meminjam lagi untuk perluasan usahanya kembali.

 

Melihat usaha yang didirikan Pak Kodiat dan Ibu Sumarsih maju. Bupati Sleman yang pada waktu itu dijabat Bapak Arifin, memberikan ijin Pak Kodiat untuk menyewa tanah kas desa seluas 1 Ha. Oleh Pak Kodiat, selain membangun gubug-gubug, ia menggunakan lahan tersebut sebagai lahan pertanian untuk ditanami tomat dan sayur-mayur sebagai suplai usaha restorannya.

 

Peran pemerintah dan media masa baik cetak maupun elektronik banyak membantu Pak Kodiat dalam membangun bisnis restorannya. Ia beberapa kali diundang oleh TVRI dalam acara tembang kenangan dan beberapa kali pula muncul di Harian Nasional Kompas.

"Bapak Umar Kayam (Alm) dan beberapa dosen UGM sering memberi kami nasehat. Banyak orang yang membantu diawal-awal usaha saya. Saya sangat berterima kasih kepada mereka". kenang Pak Kodiat.

 

Open Minded

Pak Kodiat sangat terbuka terhadap saran-saran yang diajukan tamu-tamunya. Misalnya ketika ia membangun sebuah gubug dengan tiang beton dan atap seng, ada seorang tamu yang protes keras dan menyarankan untuk membuatnya dengan bambu dan atap dari daun tebu. Tamu tersebut memberikan contoh foto dan gambar bangunan yang diinginkan. Pak Kodiat pun mendengarkan saran orang tersebut, tak disangka ternyata orang tersebut adalah Achmad Samsul Hadi, seorang pelukis poster terkenal di Yogyakarta. Hingga saat ini, gubug dan restoran tersebut dibangun dengan konsep "alam desa".

 

Gubung Makan - Resto Moro LejarPada awalnya Ibu Sumarsih yang pandai memasak, mengerjakan semua hal sendiri. Mulai dari memasak, melayani tamu, membereskan warung hingga mencuci piring ia lakukan sendiri. Ia pun mulai kewalahan ketika tamu sedang banyak-banyaknya. Mulailah ia mempekerjakan beberapa tetangganya yang hingga saat ini berjumlah 85 orang, untuk hari-hari khusus, seperti lebaran, wisuda, dsb, ia menambah tenaga kerja kebersihan dari luar (out sourching cleaning service). Sebagian besar karyawan Moro Lejar lulusan SD yang diambil dari daerah sekitar tempat usaha tersebut. Pengetahuan mereka memang minim, tetapi kesempatan ini benar-benar bermanfaat bagi mereka. "Kami ingin membuka lapangan pekerjaan dan memberi kesempatan bagi orang-orang di sekitar". Oleh karena itu kendala terbesar yang dirasa saat ini adalah SDM yang masih rendah. Pengetahuan akademis tentang tata boga yang dimiliki pun ala kadarnya. "Warung kami adalah warung khas masakan orang desa" begitu ujar Pak Kodiat.

 

Di awal tahun 2000, banyak bermunculan restoran ikan di Kabupaten Sleman yang serupa dengan konsep Restoran Moro Lejar, ada sekitar 13 Restoran. Namun ia tidak khawatir. Pak Kodiat tetap konsisten dengan restoran khas gaya desa. Ia pun menjaga kualitas masakannya, dengan tetap mempertahankan Ibu Sumarsih sebagai peracik bumbu dan pengontrol rasa masakan. Ada hal menarik tentang "misteri wanita memasak". Pak Kodiat bercerita, jika ada lima orang wanita diberi bumbu yang sama, kemudian disuruh meramu dan memasak dengan cara yang sama pula, hasilnya bisa berbeda. "Memasak itu seperti melukis, alat dan obyek yang sama tetapi hasilnya akan berbeda" terang Pak Kodiat. Ketika ramai pengunjung, Pak Kodiat mempunyai cara unik di restorannya, yaitu "buka tutup parkir". Jika restoran penuh, maka ia menutup tempat parkirnya dengan portal, sehingga pengunjung bisa beralih ke restoran lain di sekitarnya. Ia pun menyediakan masakan model buffee untuk mengurangi kepadatan pengunjung dan mengantisipasi pengunjung yang ingin makan dan pulang cepat.

 

Menu-menu yang ditawarkan di Restoran Moro Lejar antara lain: ikan gurameh, mas, nila, lele, wader dengan masakan asam manis, bakar, goreng, dsb., tidak lupa pula sayur-mayur pendamping seperti cah kangkung, sayur asam dan lalapan. Untuk memenuhi kebutuhan pengunjung, rata-rata ikan gurameh 8-10 Kw/bulan, ikan mas dan nila 5-7 Kw/bln dan ikan lele 3-4 Kw/bln. Ikan-ikan tersebut di dapat baik dari kolam sendiri maupun suplier yang berasal dari Jawa Tengah dan DIY untuk ikan gurameh, sedangkan ikan mas di ambil dari Jawa Barat. Untuk sayur-mayur seperti tomat, dll, diambil dari lahan pertanian miliknya, sedangkan tempe ia produksi sendiri.

Tips untuk generasi muda dalam berbisnis adalah berani memulai, begitu pesannya.


Asal muasal nama "Moro Lejar"

Nama "Moro Lejar" muncul di tahun 1994. Kata "Moro Lejar" didapat dari usulan seorang tamu "misterius" yang sering mampir ke warung. Dalam satu minggu terkadang ia bisa datang tiga sampai empat kali, baik hanya sekedar melihat air, melihat kolam, melihat ikan, berkeliling hingga makan jika ia memang ingin makan. Terkadang hanya beberapa menit lalu pergberdiam diri. Hingga pada suatu hari ia bertanya mengapa warung ini tidak ada namanya. Ia pun mengusulkan nama "Moro Lejar", dengan alasan bahwa setiap kali ia datang ke warung, ia merasakan ada sesuatu yang lain, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sesuatu yang dirasakan dari dalam hati, seperti kedamaian, ketenangan, dsb. Pak Kodiat pun setuju warungnya di beri nama "MORO LEJAR" lantaran bahwa selama orang tersebut mondar-mandir ke warungnya, hal itulah yang dirasakan orang tersebut.

Sedangkan dari makna "Moro" berasal dari Bahasa Jawa yang artinya "datang", sedangkan kata "Lejar" sulit dicari sinonimnya, "Lejar" arti katanya mendekati menggambarkan suasana damai, hati dan jiwa, tenang.

- Lintas Berita :

Comments

siapa tamu misterius itu

pak kodiat tamu misterius itu siapa ? apakah orang berjenggot putih dan tinggal di pakem sekarang ada di kentungan ? selamat pak

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <u> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <img> <p> <div> <span> <br> <b> <i> <h1> <h2> <h3> <h4> <h5> <h6> <hr> <cite>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Images can be added to this post.
  • Use <!--pagebreak--> to create page breaks.
  • Flash node macros can be added to this post.
  • You may use [view:viewname] tags to display listings of nodes.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Security question, designed to stop automated spam bots