try another color:
try another fontsize: 60% 70% 80% 90%

FAQ - Pendidikan Entrepreneur K-12 / CES

Umum

Mengapa pendidikan entrepreneur diperlukan?

Karena praktek pendidikan kita memerlukan terobosan-terobosan baru agar terjadi perkembangan inovasi dalam praktek penyelenggaraan sekolah atau pembelajaran. Inovasi yang tidak sekedar di level metodologi atau pendekatan mengajar. Melainkan dari arah mendidik, model kurikulum, sampai strategi mengelola sekolah.

 

Inovasi ke arah mana?

 

Arah yang sangat mungkin dirintis adalah membuat sebuah sistem penyelenggaraan sekolah dan pembelajaran yang menyiapkan siswa ke arah kemandirian untuk berkreasi dan berinovasi sehingga sswa secara bertahap membangn cara berpikir untuk hidup secara mandiri atau mempunyai kesadaran tentang self employment. Isu ini penting agar bangsa ini mempunyai generasi baru yang punya mindset untuk berkreasi dan berinovasinya, (Garder,2007). Bahkan tidak cukup kalau hanya sekedar berkreasi. Kreasi yang berdasarkan kesempatan yang diperoleh dari proses eksplorasi. Hasil kreatifitas harus dikomunikasikan dan dipromosikan agar dihargai oleh orang lain.

 

Pendidikan kita selama ini mengarahkan siswa "berhenti" di proses memahami. Kalau sudah paham dengan fakta dan konsep yang diajarkan, dipandang cukup. Untuk melihat pemahaman yang dikuasai, siswa dites atau dengan isitilah "ulangan". Walaupun proses memahami dapat dinyatakan melalui proses belajar siswa secara aktif melalui aktifitas-aktifitas yang menyenangkan. Tapi akhir dari pembelajaran tetap membuat siswa paham.

 

Apakah proses memahami adalah proses yang salah?

 

Bukan masalah benar dan salah. Ini masalah perubahan orentasi belajar. Belajar untuk era sekarang tidak cukup kalau berhenti dalam tahapan memahami. Tahapan harus dilanjutkan ke proses menghasilkan. Siswa harus dilatih untuk memfungsikan pengetahuan dan skills yang telah dimiliki untuk dapat menghasilkan ciptaan yang bernilai. Dengan kata lain seorang yang belajar akan selalu "menantang" dirinya dengan pertanyaan, "Dengan pengetahuan dan kecakapan yang saya miliki, saya dapat menghasilkan apa?" dan "Apakah inovasi yang saya akan hasilkan dapat diterima oleh komunitas?" Proses menghasilkan inovasi yang diterima oleh komunitas inilah yang akan menjadi penekanan dalam pendidikan entrepreneur tingkat TK - SMA.

Apa dampak yang diharapkan dari arah pendidikan seperti itu?

Sangat luas! Generasi yang tidak terjebak pada kebingungan seperti yang terjadi sekarang ini. Banyak orang bingung ketika terjadi perubahan. Bahkan dilevel sekolahpun terjadi banyak kebingungan ketika sebuah sistem kurikulum berubah. Mengapa? Karena komunitas sekolah sudah terjebak sikap pasif dan konsumtif, mereka hanya sekedar menerima dan menjalankan sistem. Ketika dituntut untuk mengembangkan dan menghasilkan kurikulum sekolah sendiri dan berinovasi dengan standar kurikulum yang ada mereka menjadi bingung.

 

Kita tidak boleh mengulangi untuk mencetak generasi yang seperti itu. Kita harus mempunyai generasi yang terbiasa menghasilkan hal-hal baru, mencari kemungkinan-kemungkinan pengembangan.

 

Generasi yang mandiri untuk berkreasi. Sebuah generasi yang mempunyai spirit, mindset dan ketrampilan untuk membuat terobosan-terobosan. Pendidikan diarahkan untuk mendorong lahirnya generasi yang tidak sekedar mengulangi apa yang telah dikerjakan oleh generasi sebelumnya. Generasi yang mampu menghasilkan ide-ide dan inovasi baru yang dapat diterima oleh masyarakat.

Mengapa harus lewat sekolah?

 

Sekolah mempunyai potensi untuk mencetak generasi seperti itu lewat proses pembelajaran. Kalau kita dapat mengembangkan sistem kurikulum sekolah dan pembelajaran yang membuat siswa berkreasi, genereasi muda kita akan mempunyai kesempatan 12 tahun untuk belajar dan berlatih. Itu waktu yang sangat panjang dan potensial untuk membuat landasan jiwa kemandirian dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan. Sehingga ketika siswa masuk ke perguruan tinggi, mereka tinggal memperdalam lewat bidang masing-masing. Kalau mereka memilih usaha sendiri, mereka telah dibekali dengan mindset yang berkembang, (Dweck,2007) dan ketrampilan hidup yang sesuai dengan eranya.

 

Mengapa melalui jalur entrepreneurp?

Jalur entrepreneurship adalah sebuah pilihan yang dianggap potesial untuk dikembangkan. Pertama banyak fakta di sekitar siswa tentang tokoh-tokoh entrepreneur yang telah banyak memberikan kontribusi pada perkembangan ekonomi dan sosial. Ini dapat menjadi dorongan yang luar biasa Hal yang dipelajari siswa akan menjadi sangat kongkrit dan dapat dilihat sehari-hari. Banyak sumber belajar yang dapat dipakai. Pembelajaran menjadi sebuah proses interaksi yang menarik antara realitas yang ditemukan dengan siswa yang belajar.

 

Entreprenur mempunyai spirit dan jiwa yang terus ingin tetap maju, berkembang, dan mandiri. Mereka telah memberikan banyak kontribusi pada kemajuan ekonomi bangsa dan memberikan lapangan kerja Kalau sekolah dapat membentuk mindset seperti ini dalam generasi muda, diharapkan mereka sedikit demi sedikit akan berpikir untuk mandiri dalam bidang ekonomi juga. Banyak hal lain yang menarik dan dapat dipelajari dari karakter dan skills seorang entrepreneur seperti keberanian mengambil resiko, strategi mengatasi masalah, kemampuan berkomunikasi, cara mengubah ide menjadi sebuah rencana, cara menangkap dan mengeleloa peluang. Karakter dan skills seperti itu sangat penting untuk dipelajari dan diaplikasikan di semua bidang di era sekarang.

 

Kedua. Pendidikan entrepreneur sudah banyak diterapkan di banyak negara seperti negara-negara eropa dan Amerika sehingga paling tidak kita tidak berangkat dari nol dalam mengembangkan sistem ini. Sudah ada contoh-contoh yang dapat dijadikan inspirasi pengembangan. Dari sisi metodologi dan kurikulum yang ada, seperti pendekatan belajar inquiry dan problem based, (Barell, 2000) kita dapat mengembangkan sistem penyelenggaraan sekolah dan pembelajaran yang dapat mendukung pendidikan dengan wawasan entrepreneur.

 

Apakah tidak bertentangan dengan prinsip pendidikan karena akan menutup kemungkinan lain bagi siswa karena semua diarahkan ke entrepreneur?

 

Sangat bergantung dari pengertian entrepreneur yang disepakati. Sebelum mengembangkan sistem kurikulum kita harus sepakat dengan karakteristisk entrepreneur itu sendiri

 

Secara umum pendidikan mempunyai dua tugas besar. Pertama menyiapkan generasi yang punya kemampuan adaptasi terhadap ekspektasi lingkungan. Kedua, menyiapkan agar mereka mampu mengatasi masalah-masalah yang ditemukan dengan cara-cara baru. Melalui yang pertama siswa belajar untuk memahami kondisi dan pola yang ada di sekitar mereka. Sedangkan yang kedua mendorong siswa untuk berinovasi. Dua fungsi tersebut harus dioperasionalkan secara seimbang. Pengembangan pendidikan melalui model entrepreneur menjadi alternatif yang sesuai dengan dua fungsi pendidikan tersebut karena pendidikan entrepreneur sangat menekankan pada pembentukan perilaku mencipta

 

Ada sebuah realitas lain yang sedang dihadapi oleh bangsa ini yaitu masalah pengangguran dan ketenagakerjaan. Selama ini pendidikan telah berhasil membuat mindset generasi pencari kerja. Hampir semua lulusan sibuk mencari kerja sedangkan lapangan kerja sangat terbatas. Kalau pendidikan entrepreneur dapat mendorong generasi mandiri di bidang ekonomi, bukankah itu akan menjawab salah satu persolan besar bangsa ini?

 

Kata entretreneur cenderung mempunyai konotasi bisnis, apakah berarti sisiwa akan hanya diarahkan ke dunia bisnis?

Karena selama ini kita banyak diekspos dengan entrepreneur di bidang bisnis, konotasi entrepreneur selalu hanya berkaitan dengan bisnis. Sebaiknya kita memahami entrepreneur sebagai sebuah "spirit atau mindset" yang didukung dengan kemampuan-kemampuan tertentu dibidangnya. Misal mindset untuk berinovasi dibidang IT sehingga memerlukan ketrampilan yang mendukung untuk berinovasi dibindang tersebut, sehingga hasil inovasinya diterima atau dihargai oleh orang lain. Orang seperti ini sekarang disebut menjadi technopreneur. Kalau spirit dan mindset dikontekskan di bidang sosial, menjadi social entrepreneur. Kalau di pemerintahan, menjadi government entrepreneur.

 

Singkatnya kita dapat mengembangkan sistem pendidikan entrepreneur untuk SD - SMA tanpa harus membatasi peluang masa depan siswa. Kita hanya akan mengembangkan nilai-nilai, mindset dan ketrampilan dasar yang berhubungan dengan entrepreneur

Bagaimana dengan realitas sikap masyarakat yang masih mengidolakan ujian nasional (UN)?

 

Kita memerlukan kondisi baru yang harus diciptakan oleh sekolah melalui sebuah proses. Kalau sekolah ingin jalan yang mudah, ya sudah ikuti saja kondisi yang sekarang ada. Tidak perlu ada inovasi dan terobosan, atau membuat terobosan kalau kondisi masyarakat sudah berubah. Sekolah hanya bekerja untuk memenuhi tuntutan kondisi yang ada yatu UN. Sekolah boleh memilih sikap seperti ini, terutama sekolah yang menggunakan kebijakan pemerintah (UN) menjadi satu-satunya standar kebijakan sekolah.

 

Sekolah yang mempunyai visi dan misi tidak "pasrah" pada sebuah kondisi yang ada. Melainkan mengelola kondisi agar dapat menciptakan alternatif-alternatif baru. Sekolah seperti ini akan cocok kalau ingin menerapkan sistem pendidikan entrepreneur karena sudah mempunyai spirit dan tekad untuk berinovasi. Kondisi UN tidak akan dijadikan halangan. Justru sekolah akan membuat target beyond the UN. Sekolah akan mencari dan menciptakan nilai tambah berdasarkan belief yang diyakini.

 

Sekolah seperti ini tidak mau terjebak dalam satu standar referensi, melainkan akan mencari dan mempertimbangkan hal-hal penting seperti parents' expectation, teaching profesion, ICT, dan perkembangan dalam disiplin ilmu yang lain. Hal yang dipertimbangkan dalam pengembangan sekolah tidak sekedar apa yang diharapkan oleh DIKNAS. Lebih dari itu! Sekolah yakin kalau kita tidak akan dapat menyiapkan genereasi muda yang produktif kalau sekedar hanya memenuhi standar UN. Banyak ketrampilan hidup yang harus diperkenalkan dan dilatihkan ke siswa secara sistematis dan terpola. Ini memang sebuah idealisme tapi sekaligus juga sebuah kebutuhan.

An entrepreneur is : "The person who habitually creates and innovates to build something of recognized values around perceived opportunities"

(Bolton & Thompson, 2005)

 

Pendidikan entrepreneur ingin mengajak para praktisi pendidikan untuk terbuka dengan isu yang berkembang di luar teori pembelajaran. Sinergi entrepreneurship dan teori belajar akan menjadi sebuah terobosan. Kalau sekolah dapat mengintegrasikan dua bidang tersebut, mengapa tidak mencoba?

 

Apakah tidak bertentangan dengan harapan dan peraturan pemerintah?

Harapan pemerintah terwujud melalui sistem managemen sekolah dan kurikulum. Sebenarnya pemerintah sudah memberi keleluasaan bagi sekolah untuk berkembang berdasarkan visi dan misi, yaitu melalui managemen berbasis sekolah. Pemerintah juga hanya menyediakan batasan-batasan melalui kerangka kurikulum yang disebut kurikulum KTSP. Kurikulum jelas memberi perintah pada setiap sekolah untuk mengembangkan kurikulum sendiri berdasarkan panduan yang diberikan. Sekolah mempunyai kewenangan untuk mengembangkan kurikulum sekolah berdasarkan nilai-nilai yang diyakini, (Bolstad, 2004). Mengapa ini tidak dimanfaatkan menjadi sebuah peluang bagi sekolah untuk mengembangkan kurikulum dengan wawasan entrepreneur?

 

Selama ini banyak sekolah sudah terjebak dalam sebuah cara berpikir, kalau pemerintah A semuanya harus A. kalau diminta B sekolah melakukan B. Padahal sekolah dapat saja mengerjakan A+ atau AA, atau A+B. Begitu juga kalau pemerintah minta B, dapat juga sekolah melakukan B+A, atau B+A+C. Pokoknya kalau sekolah dapat memenuhi standar minimal yang diminta, pemerintah akan setuju, bahkan harus berterimakasih karena masih ada sekolah yang berinovasi.

 

Kemampuan untuk mengelaborasi adalah menjadi unsur yang penting kalau sekolah mau berkembang. Dari A menjadi A+ , A+B, atau A+ entrepreneur adalah bukan sebuah kesalahan namun sebuah keberanian dan kemampuan yang perlu didorong dan dikembangkan. Sekolah di era sekarang tidak cukup kalau berkembang dengan satu referensi saja. Sekolah harus membiasakan diri untuk mengolah informasi dari berbagai sumber untuk mendukung fokus pengembangan yang dilakukan dengan beresinambungan.

 

 

Kurikulum

 

Bagaimana model kurikulum?

Penekanan kurikulum entrepreneur adalah sebuah proses mengembangkan karakter dan mindset yang dilakukan melalui proses eksplorasi dan kreatif. Dua proses diyakini akan lebih bermakna kalau disertai proses mengembangan kecakapan-kecakapan yang dapat mendukung pemahaman konsep. Unsur yang akan berkembang dari siswa adalah. karakter atau mindset, ketrampilan dan pengetahuan atau konsep-konsep tentang hal yang dipelajari. Semua unsur akan diperlakukan sama pentingnya dan saling memberikan pengaruh.

 

Kurikulum tidak sekedar membuat anak tahu dan mengerti apa yang dipelajari, tapi lebih menekankan agar siswa berlatih untuk menemukan cara-cara baru dalam berkreasi dan berinovasi. Siswa didorong untuk menciptakan nilai tambah atau baru berdasarkan pemahamannya terhadap model, pola dan sistem yang ada. Kurikulum ini akan sangat menghargai proses kreatif dan nilai-nilai kemandirian untuk mencoba atau mengambil resiko.

 

Kurikulum menggunakan model tematis atau interdisipliner yang akan dikemas menjadi payung tema. Selanjutnya payung tema disebut dengan area of eksploration atau bidang yang perlu dieksplorasi. Kalau dalam pendekatan bidang studi siswa belajar matematika, IPS dan bahasa. Tapi dalam kurikulum entrepreneurship siswa akan belajar tentang topik konkrit seperti: peristiwa penting dalam keluarga, potensi dan keunikan daerah, dan pameran. Ada sekitar 5-6 tema yang harus dipelajari di tingkat SD dan 4 tema untuk tingkat SMP/SMA. Agar yang dipelajari menjadi fokus, setiap tema akan membahas tiga hal khusus yang selanjutnya disebut focus of innovation. Dalam tema pameran misalnya siswa dapat memfokuskan pada, fungsi, prosedur dan seting tempatnya.

Mengapa dengan model tematis?

Model tematis sangat membantu siswa untuk belajar hal kongkrit yang dapat ditemukan dalam realitas kehidupan siswa. Tema menjadi jendela untuk melihat dunia dan mendorong siswa untuk mengkaitkan satu konsep dengan konsep lain. Kurikulum model ini juga akan sesuai dengan pendekatan belajar project based atau problem based.

 

Kurikulum model tematis akan mendukung siswa untuk berlatih bereksplorasi menemukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dikembangkan atau diciptakan. Ada dua proses yang ditekankankan yaitu proses memahami dan proses mencipta. Artinya supaya dapat mencipta, siswa perlu memahami sesuatu yang sudah ada. Atau, melalui proses memahami siswa dapat melihat kemungkinan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Diknas juga sudah mengajurkan pendekatan ini untuk dipakai di pembelajaran SD, (Diknas, 2007)

 

Apakah konsep dibidang studi tidak diperlukan sama sekali?

Masih diperlukan tetapi diperlakukan dengan berbeda. Dulu kita belajar matematika, bahasa dan IPS. Sekarang siswa belajar memecahkan masalah, membuat rencana kerja, mengumpulkan data. Untuk dapat melakukan tugas tersebut, siswa masih memerlukan alat seperti konsep di matematika, sains dan di pelajaran lainnya. Jadi konsep yang ditemukan dibidang studi deperlakukan sebagai "alat", bukan sebagai tujuan akhir.

 

Bagaimana mengkaitkan dengan kurikulum pemerintah?

 

Kalau dipelajari secara teliti, ternyata kurikulum terbaru (2006) dapat dikelola secara tematis. Secara hati-hati dapat dipetakan tentang apa yang perlu dipelajari siswa. Misal dikelas I SD, di kurikulum IPS, PPKN dan IPA siswa akan belajar tentang rumah. Nah, dari pada siswa belajar satu hal di tiga bidang studi lebih baik satu hal dalam sebuah tema.

 

Pengembangan menjadi tematis tidak perlu melanggar ekspektasi kurikulum nasional. Topik rumah dapat dielaborasi sampai membuat brosur tentang rumah, membuat prosedur membersihkan rumah atau membuat disain rumah sehat. Elaborasi disesuaikan dengan kondisi dan konteks kehidupan siswa, (BSNP, 2004):.

At primary level, nurturing qualities such as creativity and a spirit of initiative helps develop entrepreneurial attitudes. This is best done through active learning based on children's natural curiosity. In addition, learning about society should also include early knowledge of and contact with the world of work and business, and an understanding of the role of entrepreneurs in the community,

(http://www.unesco.org/education/efa/wef_2000/strategy_sessions/session_III-8.shtml)

Apa yang perlu diperhatikan dalam proses pengembangan kurikulum seperti itu?

 

Kemampuan guru dalam membuat pemetaan tema agar tema yang dikembangkan dapat memenuhi harapan kurikulum, menjadi proses belajar siswa yang eksploratif dan mendukung siswa untuk mengembangkan kreatifitas.

 

Guru perlu mendapat pelatihan dan dukungan dari pihak pimpinan sekolah. Kemampuan guru tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa ada proses fasilitasi dan ekspektasi. Sekolah harus mempunyai kebijakan yang mendukung pengembangan kurikulum yang tidak sekedar aspek administrasi, tapi lebih pada pengembangan esensi.

 

Aspek yang tidak dapat diintegrasikan oleh tema akan tetap diajarkan secara mandiri atau terpisah. Sehingga kurikulum pendidikan entrpreneur hanya akan mengelola aspek yang dapat diintegrasikan.

Di mana perbedaan dengan kurikulum sekolah pada umumnya?

Agar pendidikan entrepreneur semakin jelas, sekolah dapat menguatkan kurikulum dengan 3 aspek lain yaitu : exposure, bentuk-bentuk aktifitas yang didisain untuk mendekatkan siswa dengan dunia nyata, membuat siswa percaya diri, terinspirasi dan tertantang. Kegiatan seperti berkunjung ke sebuah seting tempat, mengundang nara sumber dan membuat even-even pameran akan sangat menunjang proses ini.

 

Aspek lain adalah entrepreneurial perspektif yaitu siswa melakukan sebuah kegiatan yang sangat menekankan segi entreprenerialnya. Misal, Kegiatan ekstra. Dulu ada ekstra memasak. Sekarang dapat dikembangkan menjadi sebuah kegiatan yang utuh dari mencari data tentang masakan apa yang dibutuhkan, membuat disain atau bentuk masakan, membuat masakan sampai menjual. Akhirnya siswa akan menghitung berapa modal dan penghasilan.

 

Aspek ketiga adalah entreprenerial action. Siswa didorong untuk melakukan kegiatan nyata baik berupa kegiatan sosial atau kegiatan bisnis sesungguhnya. Misal siswa membantu memperbaiki seting sebuah warung yang kumuh menjadi lebih menarik. Dari mulai mendisain warung, mencari dana sampai mengelola tenaga yang mengerjakan renovasi. Prinsipnya kurikulum entrepreneur akan mendorong siswa untuk melakukan hal-hal yang sangat nyata yang dapat mendatangkan penghargaan dari orang lain.

 

Siapa yang berperan dalam pengembangan kurikulum?

 

Universitas Ciputra Entrepreneur Centre mengembangkan framework kurikulum dan contoh aplikasi dalam bentuk planning guru. Sekolah akan dilatih untuk mengembangkan kurikulum sendiri berdasarkan konteks riil sekolah masing - masing. Selanjutnya UCCE akan memfasilitasi sekolah kalau ada kesulitan-kesulitan.

 

Bagaimana model pembelajaran di sistem pendidikan entrepreneur ?

 

Dalam setiap tema yang dikembangkan dalam sebuah rangkaian proses belajar yang dinamakan siklus belajar. Sebuah siklus belajar terdiri dari 5 tahapan belajar yang satu sama lain saling berkaitan.

 

Tahapan eksplorasi : Siswa berlatih mencari dan menggali informasi, fakta-fakta, masalah agar dapat menemukan hal pokok yang harus dipelajari lebih fokus Hal pokok akan mengarah pada kemungkinan - kemungkinan untuk berinovasi. Proses ini juga memberi kesempatan bagi siswa untuk mempelajari pola, sistem atau konsep yang ada, (Erickson, 2002).

 

Tahap perencanaan : Setelah menemukan fokus yang akan dikembangkan serta memahami model atau sistem yang ada siswa mencari inspirasi untuk menemukan model/sistem baru. Pengertian baru tidak selalu 100% baru. Tapi mungkin saja ada beberapa faktor yang diganti dengan apa yang ditemukan atau diciptakan sendiri. Jadi dari model yang sudah ada, siswa mengembangkan hal yang baru. Itulah salah satu prinsip membuat inovasi.

 

Dasar dari ini semua adalah sikap kreatif dan berani mencoba yang dituangkan kedalam sebuah rencana kerja. Tahap perencanaan akan melatih siswa untuk mempertimbangkan masalah waktu, tujuan atau target yang akan dicapai, prosedur kerja serta antisipasi tantangan yang mungkin akan ditemukan.

 

Tahap melakukan : Dari proses rencana siswa melakukan tindakan atau action untuk dapat menghasilkan sesuatu. Penekanan tahap ini adalah melatih siswa bekerja secara kolaborasi dan bekerja berdasarkan rencana. Siswa berlatih untuk konsisten dengan kerangka waktu dan tahapan yang ditetapkan serta memperhatikan standar perilaku kerja.

 

Tahap komunikasi : Tantangan berikutnya bagi siswa adalah bagaimana dia mengkomunikasikan hasil kerja ke komunitas agar hasil kerjanya mendapat penghargaan. Tahap ini sangat perlu agak siswa berlatih ketrampilan berkomunikasi dan mengenal respon-respon dari audience. Aspek lain yang akan diperhatikan adalah rasa percaya diri dan pengetahuan tentang subject matter.

 

Tahap refleksi : Mengetahui atau mengenal kemajuan belajarnya sendiri atau self knowledge, merupakan hal yang penting dalam proses belajar. Bahkan proses mengenali kelemahan dan kekuatan sendiri menjadi salah satu tujuan dalam proses penilaian untuk saat ini. Tahap refleksi akan mendorong siswa untuk menidentifikasi hal yang telah dicapai dan aspek apa yang akan menjadi target berikutnya. Ini akan membantu siswa untuk mengembangkan pola belajar self directed learning.

 

Dengan mengalami siklus belajar seperti ini selama belajar diharapkan akan terbentuk pola bereksplorasi dan perilaku mencipta. Pembelajaran menjadi ajang bagi siswa untuk mencari, menemukan, mencipta dan "menjual" hasil kerjanya. Pola belajar tidak lagi "menerima" tapi proses "menghasilkan". Mengajar bukan lagi memberi, namun mengambil atau mengeluarkan potensi dari diri siswa.

 

Bagaimana dengan sumber belajar siswa?

Apapun yang ditemui siswa yang masih punya relevansi dengan topik yang dipelajari dapat menjadi sumber belajar. Siswa tidak akan bergantung dari satu buku paket. Ketika belajar tentang rumah, siswa dapat membaca tabloid, majalah bekas, iklan, brosur, wawancara dengan nara sumber, observasi langsung tentang bentuk rumah. Bahkan kadang-kadang siswa tidak menyentuh satu buku paketpun. Buku paket dapat dipakai kalau ada korelasi dengan tema. Orang tua tidak perlu selalu membelikan buku paket baru.

 

 

 

Bagaimana cara mengetahui kemajuan belajar kalau tidak ada buku paket?

Kebiasaan orang tua dalam mengetahui apa yang telah dipelajari siswa dengan cara mencocokan buku paket dengan pengetahuan yang dimiliki siswa. Kalau sudah sama dengan buku, orang tua merasa tenang karena siswa akan siap pada saat ulangan. Pola seperti ini sudah tidak pas lagi untuk era sekarang. Memang mudah bagi orang tua, tapi sudah tidak pada eranya lagi.

 

Cara yang dipakai untuk melihat kemajuan atau pertumbuhan belajar siswa dengan cara melihat dan mengamati atau mendengar tentang kesan, pendapat atau hasil kerja dia. Apakah komentar dan hasil kerja siswa terkandung pengetahuan atau nilai-nilai atau tidak. Dapat juga dilihat apakah hasil kerja dia mencerminkan sebuah proses belajar yang terstruktur atau kerja spontanitas. Pendekatan ini memang tidak mudah bagi semua orang tua karena harus jeli mengamati dan dekat dengan anak sehingga dapat mengenali pertumbuhan, baik pertumbuhan, perilaku, ketrampilan atau pengetahuan.

 

Pertumbuhan belajar siswa harus muncul dalam sebuah perilaku berpikir dan bertindak. Kalau siswa sudah belajar tentang cara mengelola sampah, seharusnya perilaku dia tentang membuang sampah menjadi tidak sembarangan. Begitu juga ketika telah belajar tentang cara mengelola sebuah kegiatan ulang tahun, siswa menjadi lebih menyadari tentang sebuah proses untuk menyelenggarakan perayaan. Pengetahuan, ketrampilan dan sikap terpancar dalam tindakan berpikir dan berperilaku. Bukan sekedar kesesuaian jawaban dengan apa yang ada di buku.

 

Apakah model ini sesuai dengan semua sekolah?

 

Sesuai untuk sekolah yang mempunyai visi dan misi ke arah ini. Sangat tidak sesuai untuk sekolah yang hanya mengukur keberhasilan siswa lewat UN atau tes. Sekolah yang mengukur apa yang diketahui dan dipahami dengan tes saja akan banyak konflik dengan belief sekolah itu sendiri.

 

Berarti untuk menerapkan sistem belajar seperti ini harus menunggu komunitas siap semua?

Kalau itu yang dipercayai tidak akan pernah terjadi perubahan di sekolah tersebut. Perubahan sekolah adalah perubahan habitat yang dimotori oleh pimpinan sekolah. Pimpinan harus membuat sebuah harapan tentang standar best practices. Kondisi "siap" adalah hasil dari sebuah proses yang didisain, bukan karena terjadi kebetulan. Sehingga kalau ada sekolah yang merasa belum siap dan punya keinginan untuk menerapkan sistem pembelajaran ini, sekolah harus mendisain program pengembangan profesi yang dapat "memfasilitasi" komunitas sekolah untuk siap. Akan terjadi masalah yang kompleks kalau pimpinan sekolah juga tidak merasa siap dan tidak pernah ada usaha untuk menyiapkan diri.

Bagaimana dengan fasilitas sekolah?

 

Pembelajarann ini tidak menuntut fasilitas yang serba mewah dan lengkap. Cukup fasilitas standar seperti yang dipunyai sekolah pada umumnya. Memang betul, semakin lengkap fasilitas semakin mudah dan lancar proses belajar siswa. Tapi fasilitas tidak berfungsi dengan baik kalau kemampuan guru dalam mengelola fasilitas rendah.

Berapa % dari mata pelajaran yang dapat dikaitkan dengan pendidikan entrepreneur?

 

Tidak ada rumus yang pasti karena sangat tergantung dari apa yang dipelajari siswa dan kemampuan guru mengelaborasi. Topik doa dalam pelajaran agama tentunya tidak dipakai sebagai alat propaganda, cukup sampai bagaimana siswa dapat mengkomunikasikan harapan, rasa syukur dengan sikap dan bahasa yang sesuai. Tapi topik perayaan dapat dielaborasi sampai anak membuat disain perayaan dan mempromosikan perayaan ke komunitas sekolah, membuat perayaan yang dapat menimbulkan kesan positif dari orang yang menghadirinya. Sebaiknya setiap mata pelajaran pernah bergabung dalam bentuk tema agar dapat mewarnai tema yang dieksplorasi siswa.