Pengantar
Pendidikan Entreprepreneur K-12, Ciputra Way tidak sekedar berhubungan dengan cara belajar dan dunia jual beli, tapi bagaimana mengembangkan manusia untuk tumbuh dengan kesadaran tentang harga dirinya disertai cara berpikir dan karakter entrepreneurial. Cerita yang dikirim oleh seorang guru yang membantu Sekolah Dharma Bakti Garut. Menerapkan pendidikan entrepreneur. Walaupun sekolah ini kecil tapi mereka ingin berkembang dengan prinsip-prinsip pendidikan entrepreneur . Inilah sebuah contoh yang membuktikan sisi manusia dari pendidikan entrepreneur K-12, Ciputra Way
Salah satu murid Dharma Bakti yang bernama Daniel baru kehilangan ibunya yang sakit kanker, dia berasal dari keluarga ekonomi bawah dengan ayah yang cuma satpam GII dan 3 kakak beradik. Kami mengetahui hal ini di hari 1 pembahasan tema tentang keluarga ‘Sauyunan Euy!' (Rukun yuk!). Kami membahas ini diawal pelajaran tentang kematian sebagai dipanggil Tuhan, dan peran ibu, teman2nya berdoa dan ada yang memberi komentar ‘ntar kalau Daniel sedih, Tuhan bakalan kasih kekuatan. Saat ditanya apa kita sekadar mendoakan? Ada yang bilang ‘Bawain Daniel makanan, soalnya nggak ada yang nyiapin' dan kami sepakat ‘One day one hug'. Anak-anak memang malaikat, setiap pagi, kami diingatkan mereka ‘Siapa yang memeluk Daniel pagi ini, Bu?'
Menyedihkannya : Daniel begitu mati rasa, waktu ditanya bagaimana perasaannya saat kami tahu kematian ibunya? Dia hanya bilang "tidak sedih." "Kenapa" "tidak tahu", "Apa kamu tidak mau melihat ibumu menderita jadi tidak sedih?". Dia cuma diam. Saya dan bu Esther sebelum kematian ini sering membicarakan anak ini, karena dari sorot mata yang garang dan marah, dari baju yang sudah tidak resletingnya, dari sering tidak bawa
bekal sekolah, dan terutama dari lambannya ini mengungkapkan ide tulis. Syukurnya suatu hari waktu jadi pemimpin dia membuat kami kagum dengan hafalnya doa bahasa Inggris dan menjadi pemimpin yang cukup baik di hari itu, padahal biasanya agak kasar pada teman. Kami sepakat untuk sering mengangkat anak ini lewat pujian dan sapaan. Acungan jempol lagi untuk ibu Esther (Guru Kl 1)yang memberi pelajaran tambahan untuk baca tulis untukk 8 anak termasuk untuk Daniel, dalam kondisi dia yang tidak mudah pun, bu Esther masih punya waktu untuk memberi perhatian Daniel, ibu Esther cumin bilang ‘saya tidak ingin lihat Daniel tidak naik kelas, hanya gara2 belum bisa baca tulis'
Saya sungguh berharap pendidikan entrepreneurship ini bisa menghadirkan harapan di keluarga-keluarga seperti Daniel, dimana mereka sudah tahu bahwa pendidikan yang tepat adalah solusi yang tepat untuk merubah masa depan jadi lebih baik, tapi mereka tidak punya akses dan kekuatan untuk mendapatkannya. Kami sungguh berharap lewat pendidikan di Dhama Bakti ini, harapan bukan sekadar harapan tapi 20 tahun dari sekarang jadi kenyataan yang manis untuk dinikmati keluarga2 seperti Daniel merubah nasib mereka.
Saya juga heran, makin hari saya makin jatuh cinta pada Dharma Bakti. Saya rindu ketemu anak2 di DB, perasaan saya, waktu saya selesai membantu Bu Esther mengajar, saya masih ingin bersama mereka, tapi saya masih ada tanggung jawab di Adiwidya, mengajar di PG & TK.
- Lintas Berita :
Comments
Post new comment