try another color:
try another fontsize: 60% 70% 80% 90%

Memulai Usaha dari Memenangi Pelatihan Entrepreneurship

Selama lima bulan, awal April sampai Agustus lalu, Universitas Ciputra Entrepreneurship Centre (UCEC) menggelar pelatihan entrepreneurship. Pelatihan tersebut diikuti umum dengan batas umur tak lebih dari 30 tahun. Tiga pemenang dalam pelatihan itu diumumkan di restoran Kahyangan G-Walk, Senin lalu.

TERIK matahari siang kemarin tak membuat Febri Akhmad Nasukha lesu. Meski sedang puasa, wajahnya berseri-seri, bicaranya semangat. Rasanya tak salah jika pria 25 tahun itu menjadi pemenang pertama pelatihan entrepreneurship UCEC. Atas keberhasilannya itu, dia mendapat hadiah uang Rp 10 juta.

 

Pemenang kedua ditempati Remy Dinar Prasasti yang mengantungi hadiah Rp 5 juta, sedangkan pemenang ketiga Pieter Dwiyanto mendapat Rp 2,5 juta. "Uang itu akan saya gunakan untuk market riset usaha yang akan saya buka nanti," kata Febri ketika ditemui di sebuah pusat pameran.

 

Selama mengikuti pelatihan, Febri sama sekali tak menyangka bakal menjadi yang terbaik. Tujuan utamanya hanya menambah pengetahuan. Apalagi, biayanya relatif murah.

 

"Selama tiga bulan hanya Rp 1 juta plus uang pendaftaran Rp 50 ribu. Saya anggap sebagai investasi karena pasti dapat pengalaman berharga," kata pria asal Lamongan itu.

 

Harapannya sesuai kenyataan. Program pelatihan tidak sebatas dalam kelas, tapi juga praktik lapangan. Empat kali mereka harus merealiasasi hasil latihan di lapangan. Praktik lapangan tersebut dinamakan Crown I-II dan Trusty Worthy I-II.

 

Kali pertama praktik, Crown I, setiap tim yang terdiri atas lima orang diberi modal Rp 100 ribu. Dengan modal itu mereka diminta membuka usaha, menjual barang-barang yang dimiliki. Febri dan timnya menjual majalah anak-anak bekas yang menumpuk di kos-kosannya di kawasan Karang Wismo. Majalah itu milik adiknya yang bekerja sebagai desain grafis majalah anak-anak.

 

Tapi, tim Febri tak asal menjual. Mereka melakukan trik untuk menaikkan harga jual dan menarik peminat pembeli. Setiap majalah diberi hadiah yang diminati anak-anak. "Semisal kartu gambar Naruto. Selain itu, kami juga mendatangkan badut," tuturnya. "Saya tidak perlu menyewa pakaian badut, tapi pinjam ke teman," lanjut Febri yang kebagian menjadi badut.

 

Mereka membuka usaha di dua tempat, Taman Bungkul dan Taman Persahabatan Gubeng. "Kami berhasil menjual 200 eksemplar dengan harga Rp 2.000 per eksemplar. Padahal, kalau di Jl Semarang hanya Rp 500," katanya. Dengan demikian, mereka untung Rp 300 ribu.

 

Dalam Crown II Febri dkk harus bekerja sama dengan penduduk desa Made, Lakarsantri, yang juga dididik entrepreneurship oleh Universitas Ciputra. Pada praktik kedua itu timnya mendapat modal usaha Rp 250 ribu.

 

"Beberapa penduduk Made usahanya membuat patung hewan-hewanan. Kami menjualnya dalam dua cara. Melalui internet dan menjual langsung di kawasan G-Walk tanpa mengeluarkan biaya sewa," tuturnya. "Kami jual patung enam biji, dengan harga Rp 35 ribu per biji," lanjutnya.

 

Rugi, karena mereka hanya mendapat duit Rp 210 ribu. "Tapi, penilaian praktik ini bukan untung rugi. Melainkan membangun mental untuk berani berjualan," papar pria kelahiran 3 Februari 1983 itu.

 

Fasilitator memberi modal cukup besar pada praktik ketiga, Trusty Worthy I, Rp 1 juta dan tempat di BG Junction. Kali ini tugasnya tidak berjualan, tapi mengajak kerjasama dengan beberapa tenant BG Junction. Bentuknya, menerbitkan kartu diskon yang diberi nama Diskon Nekat.

 

"Kami membagikan kartu itu gratis kepada pengunjung. Tenant yang bersedia kerjasama kami tarik Rp 50 ribu per kartu," papar lajang ceking berkulit putih itu. "Animo masyarakat sih tinggi. Tapi, jika dihitung-hitung ternyata kami hanya untung Rp 100 ribu," lanjutnya. Tiap tahapan risiko kegagalan memang tinggi. Para fasilitatornya menyebut praktik lapangan itu sebagai usaha pematangan mental. "Belum tentu yang untung terus dapat maju terus,"'katanya.

 

Pada tahap terkahir, mereka tanpa dibekali modal sama sekali. Namun, harus dapat duit Rp 5 juta. Pada praktik ini, lulusan Universitas Negeri Surabaya (UNesa) Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang itu sempat drop karena usaha timnya gagal. "Ketika itu kami mengadakan fashion show di Mal Pasar Atum," tutur Febri.

 

"Rencananya mengundang desainer papan  atas Surabaya dan melelang baju yang dipertunjukkan. Tapi, para perancang enggan mengikuti acara kami dengan alasan terlalu mepet," lanjut anak pertama dari tiga bersaudara itu. Memang setiap praktik lapangan hanya diberi waktu dua minggu untuk persiapan. Terpaksa, fashion show itu memeragakan baju-baju yang dijual para tenant Pasar Atum. "Tidak ada baju yang laku. Saya drop, tidak memikirkan tugas individu yang merupakan tugas terakhir," tuturnya.

 

Meski begitu, fasilitator menyebut bahwa kegagalan itu biasa dan merupakan pengalaman berharga untuk berwirausaha. Dia pun bangkit. Dia kembali konsisten dengan tugas individunya. "Sejak awal mengikuti kegiatan ini, saya mengajukan tiga usaha. Bengkel khusus cewek, bengkel di mal, dan bengkel mobile. Semuanya khusus motor dengan pangsa pasar wanita," tuturnya.

 

Setelah konsultasi dengan fasilitator pembimbing, yang diajukan dalam ujian akhir adalah bengkel di mal. Sebab, menurut hasil survei yang dilakukannya sendiri - dengan responden konsumen, pengusaha bengkel, dan pengelolah mal, bengkel di mal paling diminati. "Terutama customer cewek. Dari 25 responden yang disurvei, 45 persen mengaku butuh bengkel di mal. Sedangkan bengkel khusus cewek, tanggapannya beragam," katanya.

 

Salah satu alasan Febri membidik pangsa pasar wanita karena pertumbuhan pengguna motor cewek. Juga, banyaknya produsen motor yang mengeluarkan motor khusus cewek. Proposal Febri tersebut mengalahkan 29 peserta pelatihannya.

 

Meski di atas kertas proposal itu menang, namun, Febri mendapati kenyataan berbeda. "Ternyata, investor lebih senang bengkel khusus wanita," ujarnya. Saat ini dia sedang merealisasikan usahanya tersebut. Sayang , dia tidak mau menjelaskan lebih jauh proyeknya itu. "Akan saya kabari lagi kalau usaha itu berdiri," katanya tersenyum.

 

Jika Febri membuka usaha jasa bengkel, Pieter Dwiyanto, pemenang bisnis plan III,  mengajukan usaha jasa portal. Pria yang sehari-hari bekerja freelance di bidang foto dan desain tersebut semula hanya ingin coba-coba mengikuti pelatihan. "Tapi, saya benar - benar ingin ikut pelatihan itu," kata lulusan Universitas Kristen Petra Surabaya jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) itu.

 

Bahkan, untuk biaya pendaftaran Rp 50 ribu saja dia pinjam teman karena tak bawa uang. Setelah lolos seleksi, Pieter mengikuti pelatihan itu, meski pada saat bersamaan dia mendapat penawaran tender desain dari sebuah perusahaan di Pasuruan.

 

Pemberian materi pelatihan diadakan pada Senin-Jumat. Sedangkan Sabtu-Minggu, mempraktikkan hasil pelatihan itu dilapangan. "Pelatihan itu membuat pikiran saya sangat berbeda dibanding sebelumnya," katanya.

 

Misalnya, mengubah mindset atau pola pikir mencari kerja menjadi menciptakan lapangan kerja dan hidup mandiri. Dalam pelatihan tersebut Pieter diharuskan membuat tak kurang dari 200 ide. Dari sekian banyak ide itu, harus dipilih ide yang realistis, inovatif,  dibutuhkan pasar, berbeda dari yang lain, dan punya daya jual tinggi. "Maaf saya tak bisa menyebutkan ide pilihan tersebut," elaknya.

 

Yang jelas, pemilihan ide tersebut, didasarkan pada materi yang diperolehnya dalam kelas. Antara lain, riset pasar, solusi masalah, dan konsepnya. Selain itu, juga rancangan keuangan, biaya kebutuhan usaha lengkap dengan return of investment-nya. "Jadi, kita harus tahu berapa tahun usaha itu balik modal," kata Pieter yang keturunan pengusaha itu.

 

Dari pelatihan itu Pieter mendapat pelajaran bahwa berwirausaha tidak selalu butuh modal. "Modal diperlukan, tapi dengan berbekal ide dan konsep yang jelas, wirausaha bisa dilakukan dengan bekerjasama dengan pengusaha lain," kata pria yang tinggal di kawasan Kenjeran tersebut.

 

Dengan modal Rp 2,5 juta sebagai pemenang III, Pieter akan memulai usahanya di bidang jasa portal. Sayang, Pieter, lagi-lagi enggan menyebutkan jasa portal apa yang akan digarapnya. (cfu)

Sumber : Jawa Pos, 3 September 2008.

- Lintas Berita :

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <u> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <img> <p> <div> <span> <br> <b> <i> <h1> <h2> <h3> <h4> <h5> <h6> <hr> <cite>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Images can be added to this post.
  • Use <!--pagebreak--> to create page breaks.
  • Flash node macros can be added to this post.
  • You may use [view:viewname] tags to display listings of nodes.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Security question, designed to stop automated spam bots