try another color:
try another fontsize: 60% 70% 80% 90%

Membidik Target dengan Market Research ala Starlet Susilo

starlet.jpg

Muda dan berprestasi, dua hal yang dimiliki oleh Starlet Paramita Susilo, seorang Internet Consultant yang telah berpengalaman dan malang melintang di Amerika Serikat (US). Fokus profesi yang Ia tekuni adalah user interface design, product management dan online market research. Ketiga hal ini berhubungan dengan internet, khususnya pengembangan website. Pada 6 Juni 2008, Starlet mengisi sesi mentoring untuk program pelatihan Entrepreneurship kerjasama University of Ciputra Entrepreneurship Center dan Jawa Pos (UCEC-JP).

 

Pendidikan

Selepas SMU, Starlet mengambil kuliah di California, US. Ia menempuh program Associate of Science Business Administration di Sierra College. Lalu melanjutkan studi Business Administration di California State University dengan fokus Marketing Management and Entrepreneurship. Di sanalah Starlet mengenal Web Marketing via salah satu mata kuliah.

 

Starlet berkesempatan menjalani internship di Brilliant Shopper, salah satu dotcom di Silicon Valley. Banyak sekali entrepreneur-entrepreneur internet dan teknologi di US ‘lahir' di Silicon Valley. Beberapa dotcom besar di Silicon Valley antara lain Yahoo, Google, Friendster dan Facebook.

 

Karir

Suasana kerja di Silicon Valley sangat menyenangkan, tanpa aturan-aturan formal yang menyulitkan. Suasana kantor dikondisikan santai namun tetap serius dalam bekerja. Dinding kantor ditempel dengan ide-ide gila dan timeline. Bahkan Ia biasa bermain mini basket di ruangan sang bos.

 

Meski demikian, dengan tim kecil yang hanya berisi 4-15 orang, setiap orang harus bekerja ekstra keras. Range pekerjaan yang Ia tangani mulai dari office management, marketing, product managament, user interface hingga finance. "Play hard and work hard" kata Starlet.

 

Di masa internship ini ia merasakan bagaimana internet bergerak begitu cepat dan dinamis. Kompetisi di industri internet begitu ketat, kelalaian sedikit saja dapat dimanfaatkan oleh kompetitor.

 

Starlet kemudian fulltime di Brilliant Shopper setelah dua tahun menjalani internship. Fokus di user interface dan product development. Ia bertanggung jawab untuk menentukan fungsi apa yang akan di-launch pada suatu website dan menentukan target market.

 

Sharing

Pada sesi mentoring dengan peserta training UCEC-JP, Starlet yang juga pernah menjadi duta pertukaran pelajar di Jepang ini, memberikan sharing tentang project-project entrepreneurship yang pernah dilakukan saat kuliah.

 

Misalnya, Ia pernah diberi project dengan goal menghasilkan uang dalam satu bulan. Modal yang diberikan hanya $5, namun inilah tantangannya. Timbul lah ide untuk membuat guide book yang berisi lokasi restoran, café wifi dan club untuk hangout di sekitar sekolah. Dalam guide book itu juga diberi detail cara menuju ke spot-spot tersebut. Buku ini tidak dijual, tapi diberikan gratis. Pendapatan dari buku ini berasal dari vendor-vendor (pemilik café / resto) yang ingin menampilkan dan mempromosikan spot mereka.

 

Hasilnya ? Nol. Tidak ada yang dihasilkan. Starlet dan anggota tim terlena dengan brainstroming ide-ide agar buku itu sempurna namun tidak memperhatikan timeline. Akhirnya waktu tinggal 1 minggu untuk melakukan pendekatan dengan para vendor, namun jelas sudah terlambat. "Jangan hanya membicarakan ide-ide tentang produk, tapi ide itu harus dijalankan", demikian pesan Starlet menyikapi kegagalan tersebut.

 

Market Research

Sesi mentoring berlanjut dengan topik market research. Dalam menangani berbagai project di Silicon Valley, Starlet selalu melakukan market research pada setiap opportunity. Riset ini bisa dilakukan melalui media informasi online baik berupa media advertising, blog dan forum. Informasi juga Ia dapatkan dari majalah seperti Wallstreet Journal dan Forbes.

 

Networking pun harus dibina dengan kuat. Sering berdiskusi dengan orang-orang yang kompeten dibidangnya. Di Silicon Valley, networking dijalin melalui diskusi-diskusi dan sharing antara business owner dan investor.

 

Starlet yang cakap berbahasa trilingual (Indonesia, Inggris dan Jepang) ini menuturkan bahwa periset harus open mind terhadap perubahan jika memang diperlukan. Bahkan dalam pengalamannya, Ia pernah mengalami tiga kali pergantian business model di perusahaan tempat Ia bekerja.

 

Starlet dan fasilitator sesi mentoring, Istiwati Kiswandono menyimpulkan tahapan market research dalam tahapan sebagai berikut :

  • Mengamati problem. Melihat permasalahan yang ada dengan melakukan survey.
  • Mencari solusi. Dari problem yang ada, ciptakan jawaban atas permasalahan yang ada.
  • Mengumpulkan data. Mencari data dan informasi pendukung berkaitan dengan solusi yang telah dibuat.
  • Evaluasi ide. Diskusikan kembali ide, masalah dan solusi yang didapatkan, apakah telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Passion - Market Research = Failure

Untuk menjadi entrepreneur apakah cukup dengan mengandalan passion ? Starlet melanjutkan dengan cerita tentang seseorang yang hobi dan sangat passionate dengan golf. Sebagai pemain golf, sangat penting untuk mengetahui arah dan kekuatan angin untuk menentukan teknik pukulan yang tepat. Hal yang sulit bagi para golfer pemula.

 

Karena itu, ia menciptakan suatu alat (wearable gear) yang dapat membaca arah angin dan menginformasikan teknik dan kekuatan pukulan yang tepat pada golfer. Suatu ide yang cool. Alat tesebut gagal di pasar. Setelah diteliti ternyata penemu alat tersebut tidak cross check dengan target market dimana sebagian besar pegolf adalah pria. Pada umumnya, secara psikologi pria cenderung merasa terganggu apabila terus-menerus dipengaruhi dalam decision making.

 

Bisnis Internet

Pada akhir sesi, Starlet memberikan gambaran mengenai bisnis di bidang internet. Ia mengemukakan bahwa infrastruktur memegang peranan penting dalam kemajuan bisnis internet, karena itu Amerika Serikat telah jauh lebih unggul.

 

Kesulitan terbesar dalam bisnis online adalah mencapai target market. Untuk mencapai market yang sesuai tidak hanya dengan menghadirkan fitur-fitur yang lengkap pada website, hal-hal sederhana seperti pemilihan warna pun juga berpengaruh. Karena itu sekali lagi ditekankan perlunya dilakukan riset pasar untuk cross check dengan segmen yang diharapkan.

 

Saat ini Starlet bekerja self-employed, murni sebagai konsultan yang merancang blueprint produk dan user interface bagi client-clientnya. Salah satu client yang Ia tangani adalah Trendiki.com, sebuah portal social network yang fokus pada bidang fashion.

 

Website dan portfolio Starlet Paramita Susilo dapat diakses via :

http://www.starletopia.com/

 

Galeri foto-foto sesi mentoring :

http://www.ciputra.org/image/tid/49

 

- Lintas Berita :

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <u> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <img> <p> <div> <span> <br> <b> <i> <h1> <h2> <h3> <h4> <h5> <h6> <hr> <cite>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Images can be added to this post.
  • Use <!--pagebreak--> to create page breaks.
  • Flash node macros can be added to this post.
  • You may use [view:viewname] tags to display listings of nodes.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Security question, designed to stop automated spam bots