
Andy Widianto adalah salah satu entrepreneur sukses asal kota Surabaya. Bisnisnya yang terkenal adalah kafe Agojas yang berlokasi di kawasan Mulyosari dan G-Walk. Bahkan kafe Agojas kini telah dikembangkan dalam konsep franchise. Produk jagung serut merupakan ciri khas dari Agojas. Namun jauh sebelum nama Agojas dikenal sebagai kafe, Andy telah menggunakan Agojas sebagai brand dalam beberapa bisnisnya sejak 1988.
Andy telah memulai berbisnis sejak SD. Meski lahir dari keluarga wirausaha, namun awalnya beliau tidak di-backup sama sekali. Alasannya, pihak keluarga ingin beliau lebih konsentrasi pada pendidikan. Meski demikian saat menginjak SMP, Andy berjualan mainan anak Tamiya yang sedang booming saat itu. Modalnya dari tabungan sendiri sejumlah Rp 600 ribu.
Dalam waktu setengah tahun, modal tersebut telah berlipat 4-5 kali. Melihat keberhasilan tersebut, pihak keluarga akhirnya mulai memberikan bantuan modal. Sejak saat itu brand awareness "Agojas" telah dibentuk.
Memasuki masa SMU, Andy masuk ke bisnis Laser Disc yang sedang populer kala itu. Usaha ini juga sempat berkembang pesat. Namun partner bisnisnya melakukan penipuan dan usaha ini tutup. Bagi Andy, hal ini adalah suatu pembelajaran dalam berwirausaha.
Tahun 1995, Andy juga pernah mengelola produk-produk yang dipasarkan via televisi. Beliau melihat opportunity tersebut setelah sebelumnya sudah booming di Jakarta, lalu mencobanya di Surabaya. Hasilnya juga sukses.
Beliau sempat mengecap pendidikan di Australia sebelum akhirnya kembali ke tanah air karena krisis moneter tahun 1997-1998. Krisis sempat membuat bisnisnya vakum. Lalu pada tahun 2000, Playstation menjadi mainan yang populer. Andy menekuni bisnis Playstation bekerjasama dengan beberapa orang rekan. Sayangnya setelah sukses, sekali lagi beliau menjadi korban penipuan oleh rekan bisnisnya.
Tahun 2003, Andy memulai bisnis makanan jagung serut dengan brand Agojas di pinggir jalan Mulyosari. Lokasi ini dipilih karena masih sedikit depot/tempat makan yang berjualan disana. Selain itu dilokasi ini tidak ada yang berjualan hingga malam hari. Agojas menyediakan makanan-makanan ringan bagi konsumen yang pulang setelah jalan dari mall atau dari pusat kota.
Awalnya sepi, bahkan dalam 1 hari hanya menjual 5 jagung. Dalam waktu 3 bulan, Agojas telah mampu mencapai penjualan 50-150 jagung per hari. Pada bulan ke delapan, Agojas dimodifikasi menjadi konsep kafe dengan tambahan menu-menu lain seperti roti, ayam goreng dan jagung beraneka rasa. Target market Agojas adalah remaja. Promosi hanya dilakukan dari mulut ke mulut, tidak pernah melalui media cetak elektronik
Andy mencari sendiri supplier jagung yang bisa dipercaya dengan melakukan survey langsung ke lapangan. Awalnya hanya coba-coba dari beberapa pemasok. Kemudian perlahan diketahui suppier mana yang jujur dan kualitasnya bisa diandalkan. Walau memiliki supplier tetap, Ia menyiapkan backup bila pasokan mengalami kendala.
Pada tahun 2004, selain mengelola kafe, Andy sempat menekuni bidang property. Hal ini dikeranakan Ia mengetahui prediksi booming property pada tahun 2005 dan 2006. Akhirnya Andy bergabung dalam suatu agent property di Surabaya. Selama delapan bulan di property nyaris tidak menghasilkan apapun. Namun konsistensi membuatnya bertahan dan sampai akhirnya berhasil mendapat proyek besar. Life Achievement Award diberikan kepada beliau karena berhasil mencapai target penjualan yang fantastis.
Tahun 2006, Andy Widianto kembali fokus pada bisnis kafe Agojas dengan membuka cabang di G-Walk (Surabaya Barat). Keputusan ini diambil setelah melihat hasil survey tahun 2005 di kafe Agojas Mulyosari yang menunjukkan bahwa 40% customer ternyata berasal dari Surabaya Barat. Survey pada tahun 2006 bahkan mencapai angka 50%. Pada tahun 2008, Agojas dikembangkan menjadi konsep franchise dan akan dibuka di Bogor.
Perjalanan wirausaha Andy Widianto tidak mulus-mulus saja. Ia telah mengalami jatuh bangun. Beliau pernah 3 kali ditipu oleh rekan bisnisnya dengan total kerugian lebih dari Rp 3 Miliar. Hal ini dikarenakan dahulu Ia tidak memperhatian detail akuntansi usahanya. Karenanya, Andy memberi tips agar seorang entrepreneur tidak hanya paham marketing, tapi juga memiliki keahlian mengelola finance (accounting) yang mumpuni.
Andy berpesan, mengembangkan bisnis ibaratnya merawat tanaman. Butuh ketekunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang instan. Perlu proses sebelum keberhasilan didapat. Opportunity (kesempatan) mungkin tidak muncul langsung saat anda mulai terjun berbisnis, karena itu dibutuhkan konsistensi.
Kebiasaan positif dari Andy yang lain adalah kegemaran membaca buku. Tidak hanya buku-buku bisnis, tapi juga buku yang bertema psikologi dan pengembangan diri. Buku profil tokoh sukses juga banyak menginspirasi beliau. Buku lain yang disarankan untuk dibaca adalah yang sesuai dengan hobi anda, sehingga menimbulkan stimulus kreatifitas.
Kunci keberhasilan Andy Widianto :
Salah satu kunci kesuksesan Andy dalam membangun bisnisnya adalah kelengkapan database relasi yang dimilikinya. Ia memiliki kebiasaan untuk bertukar kartu nama dengan banyak relasi. Dengan demikian Ia memiliki banyak resource untuk mencari opportunity dan memiliki data calon customer yang banyak. Andy juga selalu menjaga hubungan dengan relasi-relasi di database-nya tersebut. Bahkan beliau memperbantukan asisten untuk mengelola database itu.
Ia pandai melihat tren bisnis yang sedang atau akan berkembang. Dari bisnis Tamiya, Laser Disc hingga property, semuanya adalah buah kejelian beliau membaca tren. Salah satu caranya adalah melalui relasi-relasinya.
Berikut video penjelasan Andy Widianto mengenai bagaimana Ia jeli melihat opportunity dengan memanfaatkan relasi.
Email Andy Widianto : agojas28@yahoo.com
- Lintas Berita :
Comments
Wah, hebat. Anda pinter
Fri, 08/08/2008 - 09:28 — Ardian (not verified)Wah, hebat. Anda pinter banget melihat pasar :D Saya sampai kagum. Kasih tips supaya bisa jadi hebat seperti anda dong ^.^
Post new comment