try another color:
try another fontsize: 60% 70% 80% 90%

Visi Ciputra Mengubah Indonesia

Memasuki usia 77 tahun, Dr Ir Ciputra, yang akrab dikenal dengan Pak Ci, tidak melihatkan tanda-tanda untuk berhenti berkarya. Bahkan lebih dari itu, Pak Ciputra bahkan mencanangkan suatu program baru yang akan ia lakukan bersama dengan tim di Yayasan Ciputra Entrepreneur.

 

Sebagai seorang entrepreneur sejati, Pak Ciputra telah mendapatkan pengakuan yang memberikannya legitimasi dalam pemikirannya untuk bangsa Indonesia. Di akhir Mei ini, Pak Ciputra akan mewakili Indonesia ke ajang kompetisi Internasional World Entrepreneur Of The Year 2008 yang diselenggarakan oleh Ernst and Young International.

 

Selain gelar doktor kehormatan dalam bidang teknik yang diberikan oleh Universitas Tarumanagara, Maret lalu, Pak Ciputra mendapat kehormatan sebagai "The Second Best Most Favorite CEO" karena integritas, kepemimpinannya dan visi oleh majalah SWA.

 

Quantum Leap: Entrepreneurship Changes Nations

 

Quantum Leap: Entrepreneurship Changes Nations adalah gagasan asli Ciputra yang ditawarkan kepada bangsa Indonesia sebagai jawaban atas pertanyaan "Bagaimana caranya mengatasi masalah pengangguran, kemiskinan sekaligus membangun kemakmuran bangsa Indonesia?"

 

Ciputra beranggapan bahwa penguasaan Entrepreneurship oleh semua komponen masyarakat Indonesia akan memutus lingkaran pengangguran dan kemiskinan. Bukan hanya itu, bangsa Indonesia akan sanggup bersama membangun kemakmuran yang berkesinambungan atau sustainable. Sebagaimana dikatakan oleh Landes bahwa "the wealth and poverty of developing countries has been linked in modern times to the entrepreneurial nature of their economies."[1]

 

Gagasan ini muncul disebabkan karena keironisan Indonesia sebagai bangsa yang kaya dengan sumber kekayaan alam namun masih dikategorikan miskin dalam ekonomi.

 

750ribuan lulusan perguruan tinggi Indonesia masih mengganggur. Mungkin saat ini angka tersebut sudah mencapai 1 juta lebih sarjana yang menganggur. Di tahun 2005-2006 terdapat 323.902 lulusan perguruan tinggi, dalam waktu enam bulan penganggur terdidik naik sebesar 66,578 orang, kira-kira 9,88 persen. Di Februari 2007, penganggur terdidik berjumlah 1,4 juta menunjukkan kenaikan 26 persen dibanding pada Februari 2006. Jikalau tidak ada tindakan penanganan yang sistematis maka angka akan terus meningkat.

 

Kondisi saat ini tidak semakin membaik. Misalkan saja di bulan Juni 2006, Badan Kepegawaian Daerah DKI Jakarta mencatat sebanyak 39,622 pelamar telah melayangkan surat lamaran kerja untuk 950 lowongan yang ditawarkan. Itu berarti satu lapangan kerja diperebutkan oleh empat orang. Di awal tahun 2007, Jawa Pos memuat sebuah berita bagaimana 110.000 orang pelamar mengikuti ujian masuk kerja untuk 500 lowongan di Trans TV.

 

Bisa dibayangkan, tanpa pekerjaan maka kemiskinan sudah berdiri di depan pintu untuk masuk kedalam kehidupan bangsa kita. Bukan hanya kemiskinan, pengangguran jelas akan meningkatkan angka kejahatan baik kejahatan pidana maupun perdata.

 

Saat ini Indonesia ada pada sebuah paradoks kelimpahan. Indonesia kaya akan anugerah kekayaan alamnya namun sebagian besar rakyatnya masih tinggal dalam kemiskinan. Misalkan, di dunia saat ini, Indonesia merupakan produsen nomor satu untuk kelapa sawit, nomor tiga untuk karet, nomor lima untuk perak dan nikel, nomor 7 untuk batu bara dan emas, dan nomor delapan untuk gas alam. Namun mengapa negara kita serasa tidak mampu untuk mengelola kekayaan alam yang Tuhan limpahkan kepada kita?

 

Ada tiga alasan utama. Pertama, selama 350 tahun penjajahan Belanda, rakyat Indonesia tidak mendapatkan pendidikan yang seharusnya dan peluang untuk berwirausaha. Kedua, pendidikan nasional Indonesia memiliki orientasi membentuk sumber daya manusia pencari kerja bukan pencipta kerja. Ketiga, wajib belajar dimulai pada anak usia 7 tahun, padahal 95 persen perkembangan syaraf otak terjadi pada usia dibawah 7 tahun.

 

Sehingga pertanyaan yang sangat jelas namun sulit menemukan jawabannya adalah bagaimana mengatasi kemiskinan dan pengangguran sekaligus membangun kesejahteraan dalam satu generasi? Jawabannya ada pada pendidikan Entrepreneurship.

 

Pendidikan entrepreneurship yang dikembangkan oleh Yayasan Ciputra Entrepreneur adalah pendidikan yang mempersiapkan para lulusannya untuk bukan saja menguasai bidangnya dengan baik namun secara langsung mempersiapkan mereka untuk menjadi entrepreneur.

 

Siapakah Entrepreneur itu? Entrepreneur adalah seorang yang bisa mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Dibalik dari pernyataan ini tersimpan kedalaman arti proses yang harus dilewati untuk menciptakan nilai sehingga barang yang tidak berharga menjadi berharga sehingga dapat melayani pasar dengan baik. Peter Drucker, ahli ekonomi Amerika, mendefinisikan seorang entreprenuer adalah orang yang selalu mencari perubahan, menanggapi dan mengeksploitasinya untuk menjadi sebuah kesempatan.

 

Karena itu, ada tiga ciri pembeda seorang entrepreneur. Dia adalah seorang pencipta peluang. Untuk menjadi seorang entrepreneur, orang tersebut tidak cukup bila hanya tiba pada tahap "mencari peluang". Juga tidak cukup tiba pada "mengenali peluang" dan "menemukan peluang". Untuk bisa bertahan berhadapan dengan lingkungannya seorang entrepreneur harus tiba pada mencipta peluang.

 

Ketika peluang sudah tercipta, maka pembeda berikutnya adalah entrepreneur adalah seorang innovator. Innovator adalah applikasi dari kreativitas. Innovasi menuntut kemampuan integrasi informasi yang tersedia untuk menciptakan sesuatu yang baru.

 

Pembeda terakhir dari seorang entrepreneur adalah dia adalah pengambil resiko yang terhitung dengan baik. Tanpa penghitungan resiko maka orang tersebut akan melakukan sesuatu yang jauh dari realitas. Sementara itu, tuntutan akan kesempurnaan atau ketepatan resiko merupakan resep yang paling manjur untuk kegagalan. Karena itu keseimbangan antara perhitungan dan pengetahuan riil akan menjadi kunci keberhasilan dalam aspek ketiga ini.

 

Namun demikian, saat ini kebanyakan generasi muda kita tidak dibesarkan dalam budaya entrepreneur. Budaya ini seharusnya memampukan kita untuk mengelola dan memanfaatkan anugerah alam raya Indonesia, bukan saja untuk mengentaskan bangsa kita dari pengangguran dan kemiskinan.

 

Meskipun demikian, masih banyak orang yang bertanya-tanya apakah entrepreneur bisa dicetak melalui pendidikan? Entrepreneur tercipta karena faktor 3L: lahir, lingkungan dan pendidikan. Kelahiran menunjuk pada faktor orang tua. Ketika orang tua adalah seorang entrepreneur maka keturunannya akan memiliki potensi besar untuk menjadi entrepreneur. Sementara itu L kedua adalah faktor lingkungan. Lingkungan bisa berarti keluarga, sanak-saudara. Sementara itu L terakhir adalah latihan.

 

Peter Drucker mengatakan bahwa entrepreneur bukanlah sebuah keajaiban. "It's not magic, it's not mysterious, and it has nothing to do with the genes. It's a disciple, it can be learned.

 

Apakah peran entrepreneur bagi sebuah masyarakat. Edmund Phelps, Ph.D. pemenang hadiah nobel ekonomi 2006 dari Columbia University mengatakan bahwa: "Entrepreneurship, and the economic institutions that facilitate it, ultimately affect people's lives as well as societal concerns like national productivity, wage level and unemployment". Sementara itu Nicholas Negroponte dalam "Being Digital" mengatakan bahwa kebanyakan atasan di negara maju adalah diri sendiri.

 

Majalah Time dalam edisi "How To Build a Student For the 21st Century" menyebutkan bahwa kesempatan kerja di masa mendatang akan memusatkan pada kreativitas dan inovasi, bukan tugas-tugas yang rutin saja. Sementara itu secara macro, Lester Thurow, profesor MIT dalam managemen dan ekonomi mengatakan bahwa tanpa entrepreneur, perekonomian menjadi miskin dan lemah. Yang lama tidak akan bertahan dan yang baru tidak akan muncul.

 

Dengan demikian, argumentasi di atas menunjukkan betapa pentingnya pendidikan entrepreneurship diterapkan untuk generasi muda kita menyambut masa depan. Caroline Jenner dalam "The Next Generation Survey" mengingatkan para guru bahwa mungkin sekolah dan guru tidak bisa memberikan para lulusannya pekerjaan, tetapi kita bisa memastikan bahwa para lulusan itu akan memiliki ketrampilan inti dan kompetensi akan membantu menciptakannya.

 

Menurut David McClelland, suatu negara menjadi makmur jikalau jumlah minimumnya berjumlah hanya 2 % dari jumlah penduduk. Amerika Serikat, tahun 2007 memiliki 11,5 %, sementara itu Singapora di tahun 2005 tercatat memiliki 7,2 %. Indonesia saat ini baru memiliki 0,18 % atau sekitar 400.000 yang seharusnya 4,4 juta.

 

Jalan Keluar

Untuk memiliki jalan keluar yang komprehensif bagi bangsa Indonesia maka, pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) harus diterapkan di semua lini pendidikan bangsa Indonesia: sekolah, perguruan tinggi, dan pelatihan di masyarakat.

 

Melihat skala jangkauan yang luas yaitu di seluruh Indonesia dan skala waktu yaitu 25 tahun, maka perlu ada gerakan nasional yang komprehensif yang dipimpin oleh pemerintah. Itulah sebabnya perlu kerja sama dari empat komponen bangsa menjadi sangat penting: Pemerintah (Government), Para Pendidik (Academician), para praktisi bisnis (Business), dan Tokoh Masyarakat (Social Figures). Keempat komponen ini bisa disingkat dengan GABS.

 

Apakah peran pemerintah? Pemerintah menciptakan gerakan nasional budaya wirausaha, membentuk tim nasional yang bisa mengkoordinasikan seluruh usaha disemua lini, dan menyediakan sebagian budget pendidikan umum dan budget pengentasan kemiskinan untuk membangun budaya dan kecapakan wirausaha.

 

Sementara itu, para pendidik mengintegrasikan pembelajaran entrepreneurship dalam kurikulum nasional, dan mengembangkan pusat-pusat entrepreneur di kampus-kampus terkemuka untuk pendidikan entreprenurship bagi warga kampus dan masyarakat serta emberdayakan lulusan untuk menjadi Entrepreneur.

 

Dalam proses pendidikan entrepreneurship setiap orang harus melewati pembelajaran melalui pengalaman, oleh karena itu peran para pelaku bisnis sangat penting. Mereka bisa menjadi mentor untu para entrepreneur baru. Mereka juga bisa membantu dalam menyediakan fasilitas kredit dan modal ventura, dan mendorong perusahaan-perusahaan nasional/BUMN untuk membangun pusat-pusat entrepreneurship untuk melatih karyawan sendiri maupun pihak luar. Sementara itu, para tokoh masyarakat sangat berperan dalam memberikan motivasi dan pengaruh dalam moralitas, etika dan etos kerja yang baik.

 

Hanya dengan demikian, bangsa Indonesia akan memiliki harapan yang nyata untuk mewujudkan impian kita bersama dalam mengurangi pengangguran, mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan mengelola sumber daya alam kita untuk menjadikan masyarakat kita makmur.


Diringkaskan dari "Keynote Lecture Training Of Trainers Entrepreneurship Education The Ciputra Way" kerja sama Bank Mandiri dan Ciputra Entrepreneur Foundation oleh Agung B. Waluyo, Ph.D. Entreprenuership Education Manager, Ciputra Entreprenuer Foundation.


[1] Landes, David (1998), The Wealth and Poverty of Nations, New York: W.W. Norton.

- Lintas Berita :

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <u> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <img> <p> <div> <span> <br> <b> <i> <h1> <h2> <h3> <h4> <h5> <h6> <hr> <cite>
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Images can be added to this post.
  • Use <!--pagebreak--> to create page breaks.
  • Flash node macros can be added to this post.
  • You may use [view:viewname] tags to display listings of nodes.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Security question, designed to stop automated spam bots