try another color:
try another fontsize: 60% 70% 80% 90%

Anda Bertanya, Ciputra Menjawab

Anda Bertanya, Ciputra Menjawab

 

Bagi sebagian orang, entrepreneurship adalah sebuah hal baru. Banyak orang yang membutuhkan bimbingan dan iluminasi lebih mengenai entrepreneurship. DR (HC). Ir. Ciputra, sebagai founder Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC)  membuka kesempatan emas bagi anda untuk mengajukan pertanyaan seputar entrepreneurship kepada beliau. Dengan pengalaman entrepreneurial yang telah teruji lintas generasi, Ciputra akan berbagi pemikiran, semangat serta strategi jitu dalam penerapan entrepreneurship.

 

Bagi anda yang berminat untuk mengajukan, silahkan mengisi form Contact Us dengan subject "Pertanyaan untuk Ciputra". Tim kami akan melakukan seleksi dan pertanyaan yang terpilih akan dijawab langsung oleh Ciputra dan ditampilkan di website ini.

Sugiyanto - STPMD Yogya

Pertanyaan: 
Bagaimana mengubah mental seorang pelayan menjadi boss?

 

Ciputra menjawab :

Saya teringat beberapa contoh pelayan yang menjadi CEO. Kuncinya dia punya semangat. Harus punya semangat dan keinginan mental sebagai boss. Kalo anda punya mental, maka harus anda tanamkan ahar semangat tetap ada. Banyak juga seorang bos yang bermental pelayan, tetapi ada juga seorang pelayan bermental boss. Jadi sebagai dosen Anda harus bisa menumbuhkan semangat tersebut dari murid-murid.

Patemah S.Sit - STIKES Widyagama Husada Malang

Pertanyaan: 
Mulai usia berapa jiwa entrepreneurship ditanamkan pada seseorang agar punya jiwa wirausaha dalam hidupnya?

Apakah kalau dimulai di usia dini akan mempengaruhi tumbuh kembang seseorang di masa datang?

 

Ciputra menjawab :

Sedini mungkin, kalau bisa dari TK. Saya mempunyai anak-anak, sejak kecil saya mengajak mereka melihat usaha saya. Saya harapkan pemerintah membuka TK untuk memulai program entrepreneurship. Kalau hanya dengan belajar menghafal saja bagaiman Anda mau kreatif? Pemerintah harus membantu sejak dini, mulai dari usia 4 th menggunakan sistem kreatif, agar dapat terjun menjadi entrepreneur sehingga mandiri.

Dosen Universitas Islam Makassar

Pertanyaan: 
Dorongan seperti apa yang harus diberikan kepada mahasiswa agar mereka berminat untuk mengelola hasil-hasil pertanian dan bukan hanya mengejar lowongan unutuk menjadi pegawai negeri sipil semata?

 

Ciputra menjawab ;

Kami anjurkan semua perguruan tinggi untuk membangun Entrepreneurship Center seperti Universitas Ciputra membangun Entrepreneurship Center yang diketuai oleh Sdr. Antonius Tanan (Presiden UCEC). Karena disitulah menjadi otak dan jatung dari Universitas. Dari situlah Anda menciptakan semua rencana Anda. Kurikulum, sistem-sistem Anda sebarkan bukan hanya di universitas Anda tapi Anda datang ke instansi garmen, pelaku bisnis, pemerintah kalau tidak Anda datang pada rektor Anda.

 

Anda harus berjuang terus seperti kami menyakinkan para menteri, dirjen-dirjen bagaimana dan apa yg kami lakukan. Karena itu ciptakan entrepreneurship, bukan hanya untuk mahasiswa tapi untuk masyarakat. Tidak ada tempat lain universitas atau sekolah untuk menjadi tempat episentrum. Karena itu kami berharap tiap universitas mempunyai entrepreneurship center. Dan sekarang Anda ambil kesempatan untuk menjadi berani, jangan takut datang pada rektor, seperti kami datang pada menteri-menteri untuk meyakinkan.

Kustiadi Basuki – Univ. 17 Agustus 1945 Jakarta

Pertanyaan: 
Bagaimana mengembangkan mata kuliah di institusi saya, kalau mereka kurang mendukung?

 

Ciputra menjawab :

Mulailah dengan menjadi dosen entrepreneurship yang menarik, buat agar mahasiswa merasa rugi apabila tidak masuk kuliah anda. Dengan audio visual anda dapat membuat perkuliahan menjadi sebuah game yang menarik. Atau dengan mendatangkan testimoni dari entrepreneur, atau undanglah sosok yang tidak jauh dengan mahasiswa. Dengan yang adanya panutan yang lebih muda dan seumuran, maka mahasiswa tidak akan merasa jauh berbeda dan lebih percaya diri.

Enik L - STIKET Bethesda

Pertanyaan: 
Pak Ci, Entrepreneurship model seperti apa yang pas di bidang keperawatan?

 

Ciputra menjawab :

Bu Enik, dirikan klinik perawatan lalu Anda buat franchise maka anda akan menjadi pencipta franchise pusat-pusat keperawatan. Anda bangun suatu model dan suatu sistem yang baik. Anda bisa menyebarkannya ke seluruh Indonesia. Anda tahu, Singapore punya ratusan sistem franchise, Indonesia punya 230 franchise tetapi tidak ada satupun yang menjangkau keluar negeri.

D. Made Dhasmawati – UHAMKA

Pertanyaan: 
Bagaimanakah memfokuskan dan membawa siswa kita kepada budaya entrepreneurship?

 

Ciputra menjawab :

Untuk merubah mind set menjadi budaya, sulit karena dosen sudah mempunyai mind set sendiri, maka Anda jangan jemu harus terus menerus merubah mind set Anda menjadi entrepreneurship. Jangan jemu-jemu menularkan entrepreneurship, seperti yang telah dilakukan kami pada Universitas Prasetiya Mulya dan Universitas Tarumanagara, sampai akhirnya para pengelola & rektor Univ. Tarumanagara setuju untuk memasukkan entrepreneurship jadi subject dalam program S1 & S2 (MM).
Obama akan mengadakan summit tentang entrepreneurship. Grup Ciputra mengusulkan kepada pemerintah Indonesia agar summitnya diadakan di Indonesia. Usul ke-dua adalah kalau Amerika menjadi Centre of Entrepreneurship untuk negara maju, maka Indonesia akan ajdi Centre of Entrepreneurship bagi negara berkembang. 

Dwi Wahyu S. (Univ. Soerjo Ngawi)

Pertanyaan: 
Bagaimana pendapat Bapak tentang kondisi dimana produk-produk China membanjiri pasar di Indonesia menggeser pasar produk-produk Indonesia?

Dan apa saran bapak untuk para pengusaha kecil dalam menghadapi persaingan pasar dengan produk-produk China?

 

Ciputra menjawab :

China adalah negara entrepreneurship dan tidak pernah dijajah, selalu bermental kreatif atau entrepreneurship. Produknya sejak 200 tahun yang lalu sudah menguasai Indonesia. Saran yang bisa saya berikan adalah kita dapat mulai melatih bangsa Indonesia untuk bisa bersaing dengan China. Mental bangsa kita perlu dijadikan mental entrepreneurship. Ciptakan sarjana pencipta lapangan kerja dengan mengubah sistem Indonesia. Pemerintah juga harus berjiwa entrepreneurship, seperti Ali Sadikin (mantan Gubernur Jakarta). Pengajar harus bisa mengubah anak-anak menjadi entrepreneur. Entrepreneurship dapat mengubah bangsa menjadi lebih maju.

Dewi AS – Univ. Dian Nuswantoro

Pertanyaan: 
Bagaimana bentuk konkret membangun jiwa entrepreneurship yang mampu mengentaskan kemiskinan?

 

Ciputra menjawab :

Pertama mulai dengan bercita-cita bahwa Anda perlu membantu orang-orang yang susah, sekaligus meningkatkan makna hidup sendiri. Dari mimpi membantu orang lain maka jika Anda kembangkan terus maka hidup Anda akan menjadi arti. Lakukan perencanaan strategis, Anda kembangkan percaya diri dan semangat untuk kemudian berusaha mengentaskan kemiskinan. Seperti yang baru saja terjadi adalah bom di Ritz carlton dan Marriot, itu karena faktor kemiskinan maka teroris pun muncul.

Retno Hartati (STIM YKPN)

Pertanyaan: 
Bagaimana Bapak mengatasi rasa takut kalau bisnis yang sekarang ada atau sedang dibangun akan bangkrut atau gagal?

 

Ciputra menjawab :

Tiap hari saya memikirikan, perasaan takut itu akan selalu ada. Saya membina 3 usaha: Jaya Group, Ciputra Group, Metropolitan Group. Saya memikirkan semuanya untuk mengatasi itu pada waktu kita sukses pada saat itu juga kita harus mempersiapkan diri utk rugi, saat Anda sukses maka ada saatnya ada berpikir bagaimana merugi karena entrepreneurship saat jatuh harus bangkit kembli. Sewalah penasehat keuangan agar tahu resiko-resiko yang ada.

YB Suwardi – ABFII Perbanas

Pertanyaan: 
Bagaimana mengembangkan kewirausahaan dalam kerangka sistem ekonomi Pancasila (ekonomi campuran)?

 

Ciputra menjawab :

Semua aliran ekonomi harus sangat berguna bagi masyarakat dan demokrasi. Lakukan dengan cara yang bebas tapi penuh kontrol. Seperti di Ciputra Group, kami bebaskan manager project berkreasi tapi tetap kami kontrol dan kami kirimkan auditor. Disertai kontrol tapi kepuasan pribadi diberikan. Semua hal ini didapatkan dari Tuhan Yang Maha Esa, selalu berdoa agar Tuhan berikan hikmat untuk selalu mampu mengerjakan bagiannya dengan baik.